A.
Pengertian Filsafat
Secara etimologis, filsafat berasal
dari beberapa bahasa, yaitu, bahasa inggris dan yunani. filsafat dalam bahasa
inggris, yaiti philosophy, sedangkan dalam bahasa yunani, filsafat merupakan
gabungan dua kata, yaitu philein yang berarti cinta atau philos yang berarti mencintai,
menghormati, menikmati, dan Sophia atau ssofein yang artinya kenikmatan,kebenaran,
kebaikan, atau kejernihan.secara etimologis, berfilsafat atau filsafat berarti
mencintai,menikmati kebijaksanaan atau kebenaran. Hal ini sejalan dengan apa
yang diucapkan ahli filsafat yunani kuno, Socrates
bahwa filofof adalah orang yang mencintai atau mencari kebijaksanaan atau
kebenaran. Jadi folosof bukanlah orang yang bijaksana atau berpengetahuan
benar, melainkan orang yang sedang belajar dan mencari kebenaran atau
kebijaksanaan. Dalam bahasa Indonesia, filsafat berasal dari bahasa arab,
filsafah yang juga berakar pada istilah yunani.[1]
Dilihat dari arti praktisnya,
filsafat adalah alam berfikir ataualam fikiran. Berfilsafat adalah berfikir.
Langeveld, dlam bukunya “pengatar pada pemikiran filsafat” (1959) menyatakan,bahwa
filsafat adalah suatu perbincangan mengenai suatu perbincangan megenai
segalahal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai keakar-akarnya. Apabila
dirumuskan kenbali,filsafat adalah sesuatu.
B. Bagaimana objek, ciri-ciri
filsafat serta metode dalam filsafat?
a.
Objek Filsafat
Objek adalah sesuatu yang merupakan
bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu
pengetahuan pasti mempunyai objek, yang dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Objek material filsafat
Objek material adalah suatu bahan
yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek
material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot suatu
disiplin ilmu. objek material mencakup apa saja hal-hal kongret ataupun hal
yang abstrak.
b.
Objek
formal filsafat
Objek filsafat formal, yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada
bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana
objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat
yang sama membedakannya dari bidang-bidang laib. Suatyu objek material dapat
ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang
berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini
ditinjau dari sudut pandangan yang
berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antarannya
psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.[2]
Objek formal filsafat, yaitu sudut
pandangan yang menyeluruh,secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari
objek materialnya.(lasio dan yuwono,1985,hlm. 6). Oleh karena itu, yang
membedakan antara filsafat dan ilmu-ilmu lain terletak dalam objek material dan
ob jek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri,
sedangkan pada filsafat tidak membatasi diri. Adapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai
kehakikat atau esensi dari yang dihadapinya.
b.
Ciri-Ciri Filsafat
c.
Metode Filsafat
Kata metode berasal dari yunani method,s sambungan kata depan meta
(menuju, melalui, sesudah) dan kata hodos
(jalan, perjalanan, cara, arah). Kata methodos sendiri berarti penelitian,
metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak
menurut system aturan tertentu.[3]
Sebenarnya jumlah metode filsafat
hamper sama banyaknya dengan definisi dari para ahli dan filsuf sendiri. Karena
metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan
corak pandang filsuf itu sendiri.
Lntaran banyaknya metode ini, Runes
dalam dictionary of philosophy sebagaimana
dikutip oleh Anton Bakker menguraikan, sepanjang sejRh filsafat telah
dikembangkan sejumlah metode
filsafat yang berbeda dengan cukup
jelas. Yang paling penting dapat disusun menurus garis historis, dan sedikitnya
ada 10 metode yaitu sebagai berikut:
a)
Metode kritis: Socrates plato
filsafat analisis istilah dan
pendapat. Merupakan hermeneutika, yang
menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya
(berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya
ditemukan hakikat
b)
Metode intuitif: Plotinus bergson
Dengan jalan introspeksi intuitif,
dan pemakaian symbol-simbol diusahakan pembersiha intelektual (bersama dengan
penyucian moral) sehingga tercapai suatupenerangan pikiran. Bergson: dengan jumlah pembauran antara
kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
c)
Metode Skolastik: Aritoteles, Thomas Aquinas,
Filsafat abad pertengahan.
Bersifat sintetis-deduktif. Dengan
bertitik-tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendiriny, ditarik
berbagai kesimpulan.
d)
Metode geometris: Rene Descartes dan Penikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks,
dicapai intuisi akan hakikat ‘sederhana’ (ide terang dan berbeda dari yang
lain);
e)
Metode Empiris: Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian
benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam intropeksi dibandingkan dengan
serapan-serapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara geometris.[4]
f)
Metode Transendal: Immanuel Kant, Neo-Skolastik
Bertitik tolak dari tepatnya
pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori
bagi pengertian sedemikian.
g)
Metode Fenomenologis: Husserl, Eksistensialisme
Dengan jalan beberapa pemotongan
sistematis (reduction), refleksi atas fenomena dalam kesadaran mencapai
penglihatan hakikat-hakikat murni.
h)
Metode Diakletis: Hegel, Marx
Dengan jalan mengikuti dinamis
pemikiran atau alam sendiri, menurut triade
tesis, antithesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
i)
Metode Neo- Positivistis
Kenyataan dipahami menurut
hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu
pengetahuan positif.
j)
Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein
Dengan jalan analisis pemakaian
bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan.
masak iyaaaaaaaaaa
BalasHapus