Rabu, 22 Mei 2013

Makalah Filsafat





A.      Pengertian Filsafat
Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu, bahasa inggris dan yunani. filsafat dalam bahasa inggris, yaiti philosophy, sedangkan dalam bahasa yunani, filsafat merupakan gabungan dua kata, yaitu   philein yang berarti cinta atau philos yang berarti mencintai, menghormati, menikmati, dan Sophia atau ssofein yang artinya kenikmatan,kebenaran, kebaikan, atau kejernihan.secara etimologis, berfilsafat atau filsafat berarti mencintai,menikmati kebijaksanaan atau kebenaran. Hal ini sejalan dengan apa yang diucapkan ahli filsafat yunani kuno, Socrates bahwa filofof adalah orang yang mencintai atau mencari kebijaksanaan atau kebenaran. Jadi folosof bukanlah orang yang bijaksana atau berpengetahuan benar, melainkan orang yang sedang belajar dan mencari kebenaran atau kebijaksanaan. Dalam bahasa Indonesia, filsafat berasal dari bahasa arab, filsafah yang juga berakar pada istilah yunani.[1]
Dilihat dari arti praktisnya, filsafat adalah alam berfikir ataualam fikiran. Berfilsafat adalah berfikir. Langeveld, dlam bukunya “pengatar pada pemikiran filsafat” (1959) menyatakan,bahwa filsafat adalah suatu perbincangan mengenai suatu perbincangan megenai segalahal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai keakar-akarnya. Apabila dirumuskan kenbali,filsafat adalah sesuatu.   
B.       Bagaimana objek, ciri-ciri filsafat serta metode dalam filsafat?
a.         Objek Filsafat
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek, yang dibedakan menjadi dua yaitu :
a.    Objek material filsafat
Objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot suatu disiplin ilmu. objek material mencakup apa saja hal-hal kongret ataupun hal yang abstrak.
b.              Objek formal filsafat
Objek filsafat formal,  yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya  memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang laib. Suatyu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut  pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia di antarannya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.[2]
Objek formal filsafat, yaitu sudut pandangan yang menyeluruh,secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya.(lasio dan yuwono,1985,hlm. 6). Oleh karena itu, yang membedakan antara filsafat dan ilmu-ilmu lain terletak dalam objek material dan ob jek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat tidak membatasi diri. Adapun pada objek formalnya  membahas objek materialnya itu sampai kehakikat atau esensi dari yang dihadapinya.
b.         Ciri-Ciri Filsafat
*        Permasalahan filsafat sangat umum
*        Menyangkut masalah-masalah asasi
*        Bersifat tidak empiris tapi metafisis
*        Pembahasan rasional, kritis dan radiks
c.          Metode Filsafat
Kata metode berasal dari yunani method,s sambungan kata depan meta (menuju, melalui, sesudah) dan kata hodos (jalan, perjalanan, cara, arah). Kata methodos sendiri berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah. Metode ialah cara bertindak menurut system aturan tertentu.[3]
Sebenarnya jumlah metode filsafat hamper sama banyaknya dengan definisi dari para ahli dan filsuf sendiri. Karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandang filsuf itu sendiri.
Lntaran banyaknya metode ini, Runes dalam dictionary of philosophy sebagaimana dikutip oleh Anton Bakker menguraikan, sepanjang sejRh filsafat telah dikembangkan  sejumlah metode filsafat  yang berbeda dengan cukup jelas. Yang paling penting dapat disusun menurus garis historis, dan sedikitnya ada 10 metode yaitu sebagai berikut:
a)   Metode kritis: Socrates plato
filsafat analisis istilah dan pendapat.  Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat
b)   Metode intuitif: Plotinus bergson
Dengan jalan introspeksi intuitif, dan pemakaian symbol-simbol diusahakan pembersiha intelektual (bersama dengan penyucian moral) sehingga tercapai suatupenerangan pikiran.  Bergson: dengan jumlah pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
c)    Metode Skolastik: Aritoteles, Thomas Aquinas, Filsafat abad pertengahan.
Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik-tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendiriny, ditarik berbagai kesimpulan.
d)   Metode geometris: Rene Descartes dan Penikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat ‘sederhana’ (ide terang dan berbeda dari yang lain);
e)    Metode Empiris: Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam intropeksi dibandingkan dengan serapan-serapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara geometris.[4]
f)    Metode Transendal: Immanuel Kant, Neo-Skolastik
Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
g)   Metode Fenomenologis: Husserl, Eksistensialisme
Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenomena dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
h)   Metode Diakletis: Hegel, Marx
Dengan jalan mengikuti dinamis pemikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antithesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
i)     Metode Neo- Positivistis
Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.
j)     Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein
Dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan.

1 komentar: